REVIEW: The Usual Suspects (1995)

Januari 16, 2018


SINOPSIS
Dean Keaton (Gabriel Byrne), Verbal Kint (Kevin Spacey), Fred Fenster (Benicio Del Toro), Michael McManus (Stephen Baldwin), dan Todd Hockney (Kevin Pollak) dituduh melakukan pencurian terhadap sebuah truk. Namun, tidak seorang pun dari mereka yang terbukti bersalah.

REVIEW
"The greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he didn't exist.". Itulah kalimat powerful yang diucapkan oleh Verbal Kint dalam interogasinya bersama agen Kujan. Kalimat itu sebenarnya dikutip dari Charles Baudelaire. Namun, karena digunakan pada situasi yang tepat, kalimat itu berhasil menjadi salah satu quotes film yang ikonik. Padahal kalau digali lebih dalam, kalimat itu bukan cuman omong kosong. Kalimat itu sebenarnya sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana film ini. Atau setidaknya, apa yang akan penonton rasakan.

The Usual Suspect sebenarnya menawarkan formula yang mainstream untuk sebuah film crime. Film ini memang berhasil diarahkan dengan cukup apik oleh Bryan Singer. Tapi gue merasa kalau naskahnya terlalu biasa. The script offers nothing fresh. Gue mengakui dan sadar betul kalau plot twist di film ini memang cerdas. Dan impactnya memang kerasa. Namun, justru itulah kekurangannya. Film ini terlalu bersandar pada plot twistnya. Coba kalau plot twist itu dihilangkan. Pasti film ini akan berakhir dengan monoton. Padahal ada banyak hal yang bisa lebih dikembangkan lagi dalam naskahnya. Misalnya, development yang lebih mendalam terhadap kelima karakter utamanya. Apalagi kelima karakter utama ini punya kharismanya masing-masing. Pastinya akan jauh lebih menarik.

Durasi 106 menit
Sutradara Bryan Singer
Penulis Christopher McQuarrie
Produser Bryan Singer, Michael McDonnell
Sinematografer Newton Thomas Sigel

SCORE: 3/5

REVIEW: Home Again (2017)

Januari 15, 2018


SINOPSIS
Alice Kinney (Reese Witherspoon) adalah seorang single mother yang baru saja pindah ke Los Angeles. Kehidupannya mulai berubah ketika dia mengizinkan tiga pemuda, Harry (Pico Alexander), George (Jon Rudnitsky), dan Teddy (Nat Wolff), untuk tinggal di rumahnya.

REVIEW
Sebagai directorial debut dari Hallie Meyers-Shyer, Home Again menawarkan naskah khas film chick-flick pada umumnya. Premisnya mirip seperti Bad Moms bertemu Three Men and a Baby. Agak klise kan? Sepertinya Hallie Meyers-Shyer terlalu takut untuk mengambil langkah yang lebih inovatif. Naskahnya predictable. Konfliknya gampangan. Alurnya terlalu rushed. Pendalaman karakternya dangkal. Enggak ada rasa intimasi antara penonton dengan karakter-karakternya. Enggak ada hal yang spesial.

Departemen aktingnya juga menyuguhkan penampilan yang average. Penampilan Reese Witherspoon kurang convincing tapi lumayan. Tiga brondong gantengnya, Pico Alexander, Jodd Rudnitsky, dan Natt Wolff, juga memberikan penampilan yang lumayan. Secara figur, si Pico itu scene stealer sejati. Kharismanya itu loh. Siapa sih yang enggak akan meleleh? Tipikal teenage heartthrob. Lumayan lah buat cuci mata.

Jujur, gue memang menikmati film ini (despite its flaws). Apalagi memang ada beberapa adegan lucu yang efektif. Tapi Home Again adalah tipikal film yang enjoyable sekaligus forgettable. Maksudnya, begitu penonton keluar dari gedung bioskop, mereka akan lupa kalau mereka pernah menonton film ini. Kenapa? Karena enggak ada sesuatu yang memorable. Ceritanya biasa. Enggak ada karakter yang tampil stand out. Ya alakadarnya.

Durasi 97 menit
Sutradara Hallie Meyers-Shyer
Penulis Hallie Meyers-Shyer
Produser Nancy Meyers, Erika Olde
Sinematografer Dean Cundey

SCORE: 2/5

REVIEW: Amélie (2001)

Januari 13, 2018


SINOPSIS
Suatu hari, Amélie Poulain (Audrey Tautou) menemukan sebuah kotak berisi kenangan masa kecil dari seseorang yang pernah tinggal di apartemennya. Dia pun berusaha untuk menemukan sang pemilik. Perbuatan baiknya itu menuntun Amélie untuk bertemu dengan Nino Quincampoix (Mathieu Kassovitz).

REVIEW
Film Prancis memang memiliki kharismanya tersendiri. Begitu pula dengan Amélie. Film ini sangat menyenangkan. Penonton akan disuguhi cerita manis di sepanjang film. Premisnya sendiri cukup unik, yaitu mengenai pemikiran seorang gadis lugu terhadap lingkungannya. Luckily, premis yang unik itu berhasil dikembangkan dengan cukup dalam. Sehingga kita enggak hanya mendapatkan sebuah film yang menghibur, tapi juga sarat akan pesan moral.

Setiap karakter dalam film ini memiliki kepribadian yang menarik. Terima kasih kepada departemen akting yang berhasil membawakan karakter masing-masing dengan apik. Karakter mereka terasa benar-benar hidup. Termasuk sang bintang utama, Audrey Tautou, yang juga memberikan penampilan terbaiknya. Ditambah lagi dengan haircut-nya yang memorable itu. Sang title character berhasil menjadi karakter yang ikonik.

Selain cerita dan akting yang menawan, film ini juga turut memanjakan mata penonton dengan kreativitasnya yang memukau. Mulai dari penggunaan tracking shot dari angle yang unik; camera movement 180 derajat yang super menakjubkan; color grading yang menimbulkan kesan unreal environment; dan masih banyak lagi. Selain itu, gue juga suka bagaimana film ini mengkombinasikan antara realita dan ilusi dalam satu shot. Sebuah bentuk visualisasi yang kreatif sekaligus cerdas. Itulah salah satu hal yang membuat Amélie enggak akan pernah membosankan meski ditonton berkali-kali.

Durasi 122 menit
Sutradara Jean-Pierre Jeune
Penulis Jean-Pierre Jeunet, Guillaume Laurant
Produser Claudie Ossard
Sinematografer Bruno Delbonnel

SCORE: 4.5/5